Rabu, 01 Juni 2011

Bentuk Sediaan Obat Suspensi Oral

Suspensi dapat didefinisikan sebagai preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi secara halus(dikenal sebagai suspensisoid) disebarkan secara merata dalam pembawa dimana obat menunjukkan kelarutan yang sangat minimum.

Ada beberapa alasan pembuatan suspensi oral. salah satu adalah karena obat-obat tertentu tidak stabil secara kimia bila ada dalam larutn tapi stabil dalam disuspensi. dalam hal seperti ini suspensi oral menjamin stabilitas kimia dan memungkinkan terapi dengan cairan. untuk banyak pasien, benyuk cair lebih disukai ketimabang bentuk padat (tablet atau kapsul dari obat yang sama), karena mudahnya menelan cairan dan keluwesan dalam pemberian dosis, pemberian lebih mudah serta lebih mudah untuk memberikan dosis yang relatif sangat besar, aman, mudah diberikan untuk anak-anak, juga mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak. kerugian dari obat tertentu yang mempunyai rasa tidak enak bila diberikan sebagai partikel yang tidak larut dalam suspensi. nyatanya untuk obat-obat yang tidak enak rasanya telah dikembangkan bentuk-bentuk kimia khusus menjadi bentuk yang tidak larut dalam pemberian yang diinginkan sehingga didapatkan sediaan cair yang rasanya enak. dengan suspensi dapat menutupi rasa obat yng tidak enak dan pemilihan zat pemberi rasa dapat lebih disesuaikan dengan rasa yang diinginkan, bukan untuk menutupi rasa yang tidak enak dari suatu obat. kebanyakan suspensi oral berupa sediaan air dengan pembawa yang diharumkan dan dimaniskan untuk memenuhi selera pasien.
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah :

1.Ukuran Partikel

Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya.

2.Kekentalan / Viskositas

Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat dibuktikan dengan hukum ” STOKES”
V=d2 (p-po) g /n
Ket :
V = Kecepatan Aliran
d = Diameter Dari Partikel
p = Berat Jenis Dari Partikel
p0 = Berat Jenis Cairan
g = Gravitasi
ŋ = Viskositas Cairan

3.Jumlah Partikel / Konsentrasi

Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut.
Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.

4.Sifat / Muatan Partikel

Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi.
Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).
Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :

1. Bahan pensuspensi dari alam.
Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom / hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, dan proses fermentasi bakteri.
a. Termasuk golongan gom :
Contonya : Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Algin
b. Golongan bukan gom :
Contohnya : Bentonit, Hectorit dan Veegum.

2. bahan pensuspensi sintesis
a. Derivat Selulosa
Contohnya : Metil selulosa, karboksi metil selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa.
b.Golongan organk polimer
Contohnya : Carbaphol 934.

Dalam pembuatan suspensi, serbuk mula-mula dibasahi dulu oleh zat pembasah agar serbuk tersebut lebih bisa dipenetrasi oleh medium dispersi. alkohol, gliserin dan cairan higroskopis lainyya digunakan sebagaizat pembasah bila suatu pembawa air akan digunakan sebagai fase dispersi. kemudian bahan pensuspensi dicampur dengan air, sehingga terbentuk mucilago. Serbuk yang telah dibasahi dicampur dengan mucilago yang telah dibuat.

Contoh suspensi oral:
  1. Antasida : Suspensi oral Alumina dan Mangnesida (Aludrox Oral Suspension), Alumina dan Magnesium Trisilikat(Alma-Mag liquid), Magaldrat(Riopan oral suspension) , Aluminia Magnesia dan Kalsium karbonat(Camalox). Ini digunakan untuk bekerja melawan hiperasiditas gastrik dan mengurangi tekanan pada saluran cerna bagian atas.
  2. Antelmintik : Suspensi oral pirantel Pamoat (Antiminth oral 250 mg/5ml suspension), tiabendazol(Mintezol Oral 500 mg/5 ml). ini digunakan untuk membebaskan tubuh dari infeksi cacing .
  3. Antibakteri: Suspensi oral sulfametoksazol (Gantanol Suspension), Sulfisoksazol Asetil (Gantrisin Syrup 500 mg/5 ml dan gantrisin Pediatric Suspension). Obat ini digunakan untu pengobatan infeksi saluran urin dan dapat menghambta sintesis asam folat serta garm para amino benzoat dari bakteri.
Sumber :
  1. Soetopo. Seno, dkk. 2001. Teori Ilmu Resep. Jakarta
  2. Anief. Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press : Yogyakarta
  3. Ansel, Howard C.1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi keempat. UI press: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar